Dalam Praktek tidak ada PENGACARA HITAM
dan tidak ada PENGACARA PUTIH
Secara
teori keberadaan hukum itu adalah hal yang baik karena diharapkan dengan adanya
hukumlah keadaan masyarakat akan menjadi tertib. Namun dalam prakteknya dapat
dilihat bahwa hukum itu diwarnai oleh kulture yang ada dimasyarakat.
Dahulu
kala adanya seorang Raja, pasti keadaannya adalah seorang yang kaya raya ...
Yah tentulah ... masak namanya Raja itu miskin. Tapi dalam kenyataannya di
lapangan, Raja tersebut masih minta upeti pada rakyatnya. Cara meminta upeti
ini tidak tanggung-tanggung, siapa yang nggak memberi maka Penjara adalah
tempatnya.
Hal
seperti ini keadaannya berlangsung terus menerus bahkan turun-temurun sampai
saat ini, namun polanya tentu berbeda. Sekarang raja semakin banyak, tidak
hanya raja besar tetapi ada raja-raja kecil. Nampaknya antara raja besar dan
raja kecil sama-sama punya kekuasaan. Berbekal kekuasaan inilah mereka semua
meneruskan tradisi yaitu minta upeti.
Tentu
cara minta upeti ini dilakukan tidak semata-mata, namun semua menggunakan
cara-cara yang tertentu pula. Tak terkecuali didunia hukum ini. Tradisi terus
berlangsung hingga saat ini.
Memang
sebagian orang mengatakan bahwa ini semua hanyalah omong kosong, namun kalau
anda sudah mengalami dalam praktek ... tentu akan tahu rasanya.
Tak
ada gunanya marah-marah, tak ada gunanya penyesalan .... karena kenyataannya
ini semua terjadi dan seakan-akan tidak akan pernah berhenti. Masyarakat dibuat
tak berdaya, apalagi dengan lemahnya pengawasan yang dibawah standart ini.
Dalam
situasi inilah, dalam ketidakberdayaan ... pada akhirnya Pengacara selaku
manusia juga mulai bersikap ! .... daripada kalah terus dipersidangan karena
sikap yang idealis yang tidak mau kompromi, maka lebih baik ... berganti haluan
yakni berbuat dengan memanfaatkan situasi. Kenyataannya hal ini akan sangat
menyenangkan, satu sisi perkara akan menang dan disisi lain ikut titip sehingga
juga mendapatkan uang kolusi suap tersebut.
Bayangkan
... kalau kenyatannya anda sering kalah dipersidangan maka ... klien anda akan
lari dan sang Pengacara akan menderita karena tidak mendapatkan uang untuk
kebutuhan hidupnya. Pada akhirnya tentu Pengacara yang ikut memainkan
perkaralah yang dapat eksis dan terus bertahan, sedangkan yang menonjolkan idealismenya
tentu akan terpuruk dan pada akhirnya ..... gulung tikar.
Dari
sinilah anda akan tahu, Pengacara Putih yakni pengacara yang idealis yakni
Pengacara yang tidak memainkan perkara tentu keberadaannya tidak akan bertahan
lama dan ujung-ujungnya akan berhenti jadi Pengacara serta kemudian alih
profesi ... dan akan ngomong bahwa nuraninya tidak bisa menerima semua
kenyataan ini.
Sedangkan
Pengacara yang Hitam tentu akan selalu dapat cemoohan yang pada akhirnya juga
tidak bisa bertahan lama karena nama baiknya rusak dan ujung-ujungnya tidak
mendapat kepercayaan dari klien-klien sehingga pada akhirnya juga hilang dari
peredaran.
Oleh
karena itulah dalam hal ini, yang ada ... adalah Pengacara yang selalu
memainkan strateginya ... Kadang jadi Putih ... dan Kadang jadi Hitam ... yang juga seringkali jadi abu-abu. Inilah
tipe Pengacara yang dapat survive saat ini.
Jadi
sejatinya Pengacara yang success adalah Pengacara yang bisa selalu mengikuti
iklim budaya yang ada di negeri ini. Kalau iklimnya korup ... ya ... yah ...
terpaksalah kita harus korup .... Sebagaimana orang banyak menyebut : Kalau
jamannya .... jaman edan ... ya ... kamu harus ikut edan .... kalau tidak ...
kamu tidak akan kebagian.
Suka
atau tidak ... inilah kenyataan yang terjadi .... adanya iklim kultural yang
berbau korup, sampai saat ini kenyataannya masih mendominasi .... dalam praktek
kehidupan di masyarakat.
Sang
Raja besar jawa ... telah mengatakan :
Sesuk
yen ono rejaning jaman ... ono maling lungguh neng kursi ... Pertanyaannya :
Siapakah sebenarnya yang jadi malingnya ini ???????? ........
Ya
.... TUHAN ku ... berilah, hambamu ini kekuatan .... walaupun tertatih-tatih
tetap bisa meneriakkan tentang suatu ... Kebenaran ..., walaupun kadang juga
melakukan kekeliruan ... karena keterpaksaan ... sebab kadang berbuat kebenaran adalah merupakan hal yang
menyakitkan ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar