Rabu, 18 Maret 2015

Dalam Praktek tidak ada PENGACARA HITAM dan tidak ada PENGACARA PUTIH

Dalam Praktek tidak ada PENGACARA HITAM
dan tidak ada PENGACARA PUTIH


Secara teori keberadaan hukum itu adalah hal yang baik karena diharapkan dengan adanya hukumlah keadaan masyarakat akan menjadi tertib. Namun dalam prakteknya dapat dilihat bahwa hukum itu diwarnai oleh kulture yang ada dimasyarakat.

Dahulu kala adanya seorang Raja, pasti keadaannya adalah seorang yang kaya raya ... Yah tentulah ... masak namanya Raja itu miskin. Tapi dalam kenyataannya di lapangan, Raja tersebut masih minta upeti pada rakyatnya. Cara meminta upeti ini tidak tanggung-tanggung, siapa yang nggak memberi maka Penjara adalah tempatnya.

Hal seperti ini keadaannya berlangsung terus menerus bahkan turun-temurun sampai saat ini, namun polanya tentu berbeda. Sekarang raja semakin banyak, tidak hanya raja besar tetapi ada raja-raja kecil. Nampaknya antara raja besar dan raja kecil sama-sama punya kekuasaan. Berbekal kekuasaan inilah mereka semua meneruskan tradisi yaitu minta upeti.

Tentu cara minta upeti ini dilakukan tidak semata-mata, namun semua menggunakan cara-cara yang tertentu pula. Tak terkecuali didunia hukum ini. Tradisi terus berlangsung hingga saat ini.

Memang sebagian orang mengatakan bahwa ini semua hanyalah omong kosong, namun kalau anda sudah mengalami dalam praktek ... tentu akan tahu rasanya.

Tak ada gunanya marah-marah, tak ada gunanya penyesalan .... karena kenyataannya ini semua terjadi dan seakan-akan tidak akan pernah berhenti. Masyarakat dibuat tak berdaya, apalagi dengan lemahnya pengawasan yang dibawah standart ini.

Dalam situasi inilah, dalam ketidakberdayaan ... pada akhirnya Pengacara selaku manusia juga mulai bersikap ! .... daripada kalah terus dipersidangan karena sikap yang idealis yang tidak mau kompromi, maka lebih baik ... berganti haluan yakni berbuat dengan memanfaatkan situasi. Kenyataannya hal ini akan sangat menyenangkan, satu sisi perkara akan menang dan disisi lain ikut titip sehingga juga mendapatkan uang kolusi suap tersebut.

Bayangkan ... kalau kenyatannya anda sering kalah dipersidangan maka ... klien anda akan lari dan sang Pengacara akan menderita karena tidak mendapatkan uang untuk kebutuhan hidupnya. Pada akhirnya tentu Pengacara yang ikut memainkan perkaralah yang dapat eksis dan terus bertahan, sedangkan yang menonjolkan idealismenya tentu akan terpuruk dan pada akhirnya ..... gulung tikar.

Dari sinilah anda akan tahu, Pengacara Putih yakni pengacara yang idealis yakni Pengacara yang tidak memainkan perkara tentu keberadaannya tidak akan bertahan lama dan ujung-ujungnya akan berhenti jadi Pengacara serta kemudian alih profesi ... dan akan ngomong bahwa nuraninya tidak bisa menerima semua kenyataan ini.

Sedangkan Pengacara yang Hitam tentu akan selalu dapat cemoohan yang pada akhirnya juga tidak bisa bertahan lama karena nama baiknya rusak dan ujung-ujungnya tidak mendapat kepercayaan dari klien-klien sehingga pada akhirnya juga hilang dari peredaran.

Oleh karena itulah dalam hal ini, yang ada ... adalah Pengacara yang selalu memainkan strateginya ... Kadang jadi Putih ... dan Kadang jadi Hitam  ... yang juga seringkali jadi abu-abu. Inilah tipe Pengacara yang dapat survive saat ini.

Jadi sejatinya Pengacara yang success adalah Pengacara yang bisa selalu mengikuti iklim budaya yang ada di negeri ini. Kalau iklimnya korup ... ya ... yah ... terpaksalah kita harus korup .... Sebagaimana orang banyak menyebut : Kalau jamannya .... jaman edan ... ya ... kamu harus ikut edan .... kalau tidak ... kamu tidak akan kebagian.

Suka atau tidak ... inilah kenyataan yang terjadi .... adanya iklim kultural yang berbau korup, sampai saat ini kenyataannya masih mendominasi .... dalam praktek kehidupan di masyarakat.

Sang Raja besar jawa ... telah mengatakan :

Sesuk yen ono rejaning jaman ... ono maling lungguh neng kursi ... Pertanyaannya : Siapakah sebenarnya yang jadi malingnya ini ???????? ........



Ya .... TUHAN ku ... berilah, hambamu ini kekuatan .... walaupun tertatih-tatih tetap bisa meneriakkan tentang suatu ... Kebenaran ..., walaupun kadang juga melakukan kekeliruan ... karena keterpaksaan ... sebab kadang  berbuat kebenaran adalah merupakan hal yang menyakitkan ...   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar